-Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah
pengertian, mengerti. Pengertian belajar menurut teori kognitiv ini merupakan
proses belajar yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, dan emosi.
-Ciri teori kognitiv ini lebih mementingkan proses
belajar daripada hasil belajar itu sendiri, jadi teori ini berkebalikan dengan
teori behavioristik yang menekankan pada adanya perubahan tingkah laku yang
dapat diukur. Jadi belajar disini melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks, sehingga ada perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan
persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa
diamati.
Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori belajar kognitif
I. Jean Piaget
· Perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yang didasari
karena perkembangan sistem syaraf, dan perkembangan sesuai dengan umurnya
·
Proses
berpikir sebagai aktivitas fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
·
Belajar merupakan proses identifikasi stimulus/ informasi yang baru, dengan melalui tahap:
1.
Asimilasi: adalah proses penerimaan informasi baru lalu dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya.
2.
Akomodasi: adalah proses perubahan/ penyesuaian
struktur kognitif yang telah dimiliki dengan informasi baru yang diterima.
3.
Ekuilibrasi: adalah keseimbangan antara asimilasi & akomodasi atau pengembangan
antara lingkungan luar dengan struktur kognitif yang ada
dalam dirinya.
Adapun pengaplikasiannya
dalam belajar: perkembangan kognitif tergantung kepada akomodasi. Jadi siswa
harus diberikan suatu area yang belum dia ketahui agar ia tidak belajar dari
apa yang diketahuinya saja. Karena dengan adanya area baru ini siswa akan
mengadakan usaha untuk dapat merespon terhadap stimuli yang baru sehingga
kognitif akan mengalami perubahan atau pertumbuhan. Juga menuntut
keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian
proses asimilasi (informasi lama disatukan sehingga menyat dengan informasi
baru), dan akomodasi (mengubah atau membentuk) pengetahuan dan pengalaman dapat
terjadi dengan baik.
II. Ausubel
Pengertian belajar bermakna Menurut Ausubel ada dua jenis belajar:
1. Belajar bermakna (meaningful learning)
2. Belajar menghafal (rote
learning).
Belajar
bermakna adalah suatu proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan
struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar.
Sedangkan belajar menghafal adalah siswa berusaha menerima dan menguasai bahan
yang diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna. Jadi menaruh perhatian
besar pada siswa di sekolah, dengan memperhatikan/memberikan tekanan-tekanan
pada unsur kebermaknaan dalam belajar melalui bahasa (meaningful verbal
learning)
·
Siswa pada pendidikan dasar harus dilibatkan pada kegiatan langsung,
sedangkan untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi akan lebih efektif
bila guru menggunakan penjelasan, demonstrasi, diagram atau ilustrasi.
·
Langkah-langkah dalam menerapkan belajar bermakna :
- Advance organizer
Penyampaian awal tentang kerangka isi materi
yang akan dipelajari siswa, contoh : hand out pelajaran
b. Progressive differensial
materi
pelajaran disampaikan bertahap, di awali konsep umum kemudian dilanjutkan ke
hal yang khusus.
c. Integrative reconciliation
Penjelasan
tentang kesamaan dan perbedaan antara kosep-kosep yang telah dimiliki dengan
konsep yang baru dipelajari.
d. Consolidation
Pemantapan materi
dengan menghadirkan banyak contoh
III. Jerome Bruner
-Belajar
mendasari pada pengamatan yang melibatkan seluruh indra, menyimpan kesan lebih
lama dan menimbulkan sensasi yang membekas pada siswa
-Perkembangan
bahasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif.
-Dalam
proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah
laku seseorang.
-Setiap orang memiliki
pengetahuan dan pengalaman di dalam dirinya.
-Proses
belajar akan berjalan dengan baik apabila materi pelajaran yang baru beradaptasi
secara klop dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh peserta
didik.
-Metode
penyajian bahan dengan cara anak dapat mempelajari bahan tersebut harus
dikoordinasikan sesuai dengan tingkat kemajuan anak.
-Proses
belajar akan berjalan
dengan baik jika guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri
suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai
dalam kehidupannya à Free
Discovery Learning
-Menurut
Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap, yaitu :
1.
Tahap enaktif: dalam memahami dunia anak mengunakan pengetahuan motorik: sentuhan, pegangan dll. Anak
melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usaha memahami lingkungan dan melakukan
observasi dengan cara mengalami secara langsung suatu reallitas. Misal: anak-anak
didik sangat mungkin paham bagaimana cara melakukan lompat tali, namun tidak
terlalu paham bagaimana menggambarkan aktifitas tersebut dalam kata-kata,
bahkan ketika mereka harus menggambarkan dalam pikiran.
2. Tahap ikonik : Seseorang memahami objek atau dunianya melalui
gambar-gambar atau visualisasi verbal. Dalam bentuk ini, anak-anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka. Misal: anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran
tentang pohon mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk menjelaskan
dalam kata-kata. Pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan
melalui representasipengalaman abstrak
3.
Tahap simbolik: Seseorang
memahami dunia melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika dll.
·
Seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua
unsur dari konsep itu meliputi : nama, contoh yang baik dan porsitif, karakteristik baik yang baik atau tidak.
IV. Robert Gagne
-Proses belajar adalah suatu proses dimana
siswa terlibat dalam aktivitas yang memungkinkan mereka memiliki kemampuan yang
tidak dimiliki sebelumnya
-Ada delapan tingkat kemampuan belajar
menurut Gagne, dimana kemampuan belajar pada tingkat tertentu ditentukan oleh
kemampuan belajar ditingkat sebelumnya.
-Delapan tingkat
kemampuan belajar tersebut adalah sbb :
1.Signal Learning :
dari signal yang dilihat, anak akan memberi respon tertentu
2.Stimulus –
response learning : seorang anak akan memberi respon fisik atau vokal setelah
mendapat stimulus tertentu.
3.Chaining :
kemampuan anak untuk menggabungkan dua atau lebih hasil belajar S – R yang
sederhana
4.Verbal assosiation
: bentuk penggabungan hasil belajar yang melibatkan unit bahasa seperti memberi
nama sebuah obyek atau benda
5.Multiple
discrimination : kemampuan untuk menghubungkan beberapa kemampuan chaining
sebelumnya
6.Concept learning :
anak mampu memberi respon terhadap stimulus yang hadir melalui karakteristik
abstraknya
7.Principle learning
: kemampuan siswa untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya
8. Problem solving : siswa mampu menerapkan
prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk mencapai satu sasaran (merupakan
tipe belajar yang paling tinggi)
0 komentar:
Posting Komentar