Nama : Ira Hayani
NIM : 150341601970
Offr : B
Hari ini kami berdiskusi mengenai teori
konstruktivisme. Teori ini memberikan kebebasan terhadap manusia untuk
membangun pengetahuaannya sendiri. Ada 3
tokoh, Bapak John Dewey (guru sbg fasilitator); Bapak Piaget (pengetahuan tidak
diperoleh secara pasif tapi melalui tindakan, proses belajar meliputi tiga
yaitu asimilasi, akomodasi, equilibrasi); Vygotsky (belajar itu ada interaksi
antara murid dan guru).
Ciri-ciri teori belajar konstruktivisme:
berpatokan sama peran aktif siswa, jadi guru hanya sebagai fasilitator, juga
memberi peluang ke siswa untuk berpendapat, guru tidak banyak menjelaskan,
siswa harus menggali sendiri pengetahuan, pendidik harus menerima pernyataan yang
disampaikan oleh siswanya, siswa harus bertanya sehingga ada komunikasi, lebih
mementingkan prosesnya namun bukan berarti hasil belajar diabaikan tapi juga
diperhatikan.
Prinsip teori konstruktivisme: pengetahuan
dibangun sama siswa sendiri, pengetahuan tidak bisa dipindah dari guru ke
murid, kecuali dengan keaktifan murid itu sendiri, guru memberikan saran, siswa
harus aktif, menilai pendapat siswa. Proses belajarnya, peranan guru hanya
meluruskan konsep yang salah dan memperbaikinya, tapi siswa harus mencari sendiri
dulu, sarana belajar seperti adanya akses internet, laboratorium yang lengkap,
adanya evaluasi untuk mengetahui kualitas keberhasilan siswa dalam memahami
materi siswa. Kekurangan teori ini yaitu siswa yang mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri dapat menyebabkan miskonsepsi, juga tiap anak butuh waktu yang lama
untuk mengkonstruk sendiri pengetahuaannya, juga sarana tiap sekolah yang
berbeda membatasi siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya.
Setelah berdiskusi mengenai teori
konstruktivisme, tiba-tiba Pak dosen memberikan kami pretest, yang sebenarnya
diberikan pada awal masuk perkuliahan namun karena soal baru selesai dibuat
maka diberikan hari ini. Soal yang diberikan mengenai materi belajar dan
pembelajaran yang beberapa materi sudah disampaikan selama perkuliahan dan ada
yang belum seperti teori self-efficacy.
Soal berupa pilihan ganda, atau multiple
choice, meskipun bentuknya multiple
choice, soal kali ini menurut saya butuh pemikiran yang ekstra karena
berisi permasalahan atau kasus-kasus yang dalam menjawabnya perlu menganalisis.
Sehingga saya menjawab soal semampu saya dan setelah ada pretest tersebut saya
jadi berpikir bahwa soal multiple choice
tidak selamanya jelek karena hal tersebut bergantung pada cara guru yang
membuat yang juga harus pintar dalam membuat soal multiple choice yang berbobot, sehingga dalam konteks ini selain
guru yang berlatih membuat soal, siswa juga dapat belajar menganalisis suatu
masalah.
0 komentar:
Posting Komentar